Ketika Satir Menjadi Cermin Realitas Pernikahan
Belakangan ini, media sosial ramai dengan kalimat satir “semua akan pret pada waktunya.” Saat pertama kali membacanya, saya tersenyum geli. Namun semakin direnungkan, kalimat sederhana ini ternyata memantulkan realitas yang cukup dalam tentang dinamika kehidupan pernikahan.
Bagi mereka yang telah lama menikah, naik-turunnya rumah tangga adalah sesuatu yang nyata dan tak terelakkan. Banyak yang mungkin menyetujuinya karena pernah—atau sedang—mengalaminya sendiri. Saya pun demikian, tidak menutup mata atas kenyataan tersebut.
Fase Indah di Awal Pernikahan dan Ujian Setelahnya
Ungkapan “semua akan pret pada waktunya” umumnya datang dari mereka yang usia pernikahannya sudah panjang. Biasanya diarahkan kepada pasangan dengan usia pernikahan yang masih seumur jagung.
Pada satu hingga dua tahun awal pernikahan, yang tampak sering kali hanya sisi-sisi indah. Suami istri sama-sama menampilkan versi terbaik diri mereka. Saling mengalah, saling memprioritaskan, dan saling menjaga perasaan.
Namun setelah kehamilan, kelahiran anak, serta tuntutan kebutuhan hidup mulai hadir, dinamika rumah tangga perlahan berubah. Sifat asli pasangan mulai muncul. Yang dulu lembut bisa menjadi keras, yang dulu penuh perhatian bisa berubah dingin dan abai.
Belajar dari Pernikahan Figur Publik
Kalimat satir ini semakin menggema ketika publik dikejutkan oleh kabar kurang mengenakkan dari rumah tangga figur publik, seperti Raisa dan Hamish Daud. Banyak yang kaget, tidak percaya, bahkan merasa kecewa.
Padahal keduanya sempat menjadi simbol couple goals: sama-sama menarik, mapan, dan berpendidikan. Hari pernikahan mereka bahkan pernah disebut sebagai “hari patah hati nasional”. Namun realitas kembali mengingatkan bahwa pernikahan, siapa pun pelakunya, tetap memiliki ujian yang tak selalu tampak dari luar.
Tidak Semua yang Tampak Indah Bebas dari Masalah
Setiap pasangan menjalani pernikahan dengan jalannya masing-masing. Takdir dan tantangan setiap rumah tangga berbeda kadarnya. Apa yang tampak harmonis di permukaan, belum tentu mudah dijalani di balik layar.
Karena itu, alih-alih ikut julid pada pasangan yang sedang berada di fase mesra, atau terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga orang lain, lebih bijak jika kita memilih untuk menjaga jarak dan tidak ikut merusak kebahagiaan yang sedang mereka rasakan.
Menyikapi Kalimat “Pret” dengan Sikap Dewasa
Bagi para pengantin baru, kalimat “semua akan pret pada waktunya” seharusnya tidak ditelan mentah-mentah. Penting untuk memiliki sikap dan pendirian agar tidak terjebak pada pesimisme sejak awal membangun rumah tangga.
Psikolog Ummu Balqis memandang bahwa ungkapan tersebut bisa lahir dari kekecewaan kolektif. Manusia cenderung ingin bertahan di zona nyaman, namun di sisi lain juga memiliki kecenderungan untuk tidak konsisten. Rasa bosan adalah sesuatu yang manusiawi, tetapi jika tidak disikapi dengan bijak, dampaknya bisa berbahaya.
“Pret” sebagai Humor Gelap dan Dampaknya
Menurut Ummu Balqis, kata “pret” dapat dikategorikan sebagai dark humor—humor gelap yang digunakan untuk meredakan stres dan membangun rasa kebersamaan. Namun jika terus diulang tanpa kesadaran, ia bisa berubah menjadi racun: menumbuhkan sinisme dan mengikis motivasi untuk menjaga hubungan.
Dalam kondisi bosan atau lelah secara emosional, sebaiknya seseorang menahan diri untuk tidak mengambil keputusan besar. Memberi waktu bagi hati, pikiran, dan logika untuk kembali jernih adalah bentuk kedewasaan dalam menyikapi masalah.
Menjaga Kehangatan agar Tidak Menjadi “Pret”
Pernikahan yang hangat tidak terjadi dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari upaya dua orang yang terus menjaga, menghargai, dan menguatkan satu sama lain. Rasa bosan pasti ada, dan itu manusiawi. Namun tidak semua rasa bosan harus direspons dengan reaksi berlebihan.
Seperti kopi atau nasi yang nikmat ketika berada pada suhu yang pas, pernikahan pun perlu dijaga agar tetap hangat—tidak terlalu panas, tidak pula terlalu dingin.
Makna “Pret” dari Sudut Pandang Pribadi
Bagi saya pribadi, kata “pret” sering kali menjadi bentuk penghiburan bagi orang yang mengucapkannya. Sangat mungkin ia pernah berada di posisi yang sama: dulu disayang dan diperhatikan, kini pasangan terasa dingin dan jauh.
Karena lelah, ia memilih berdamai dengan keadaan tersebut. Ketika melihat orang lain berada di fase bahagia, kalimat itu pun terlontar sebagai pelampiasan. Pendapat ini tentu bisa benar, bisa pula keliru.
Menjaga Kewarasan di Tengah Komentar Orang
Bagi pihak yang menerima komentar semacam itu, jika merasa kesal, tidak perlu membalas apalagi memperpanjangnya. Kita tidak bisa mengatur sikap orang lain saat melihat kebahagiaan kita. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga kewarasan dan ketenangan diri sendiri.
Sebagaimana pepatah Jawa yang bijak mengingatkan: “sing waras sing ngalah.”